Sabtu, April 18, 2026
Google search engine
BerandaBantenSejarah Panjang Kota Serang Sebagai Kota Pendidikan

Sejarah Panjang Kota Serang Sebagai Kota Pendidikan

Tppinews.id, Serang – Bangunan cagar budaya di pusat Kota Serang menjadi saksi sejarah pendidikan di Banten. Dari berdirinya OSVIA hingga sekolah kolonial lain, Serang menegaskan diri sebagai kota pendidikan sejak awal abad ke-20.

Deretan bangunan bergaya kolonial di pusat Kota Serang, kini difungsikan sebagai Polres Serang Kota dan Markas Korem 064/Maulana Yusuf, menyimpan kisah penting tentang lahirnya dunia pendidikan modern di Banten.

Pada dekade 1910-an, pemerintah kolonial Belanda mendirikan Opleidingen School voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) — sekolah calon pegawai pribumi yang menandai lahirnya Serang sebagai pusat pendidikan Hindia Belanda di Banten.

Gedung OSVIA yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani, Cipare, Kota Serang, kini menjadi kantor Polres Serang Kota.

Sejarawan Banten, Mufti Ali, mencatat bahwa pendirian OSVIA di Serang menjadikannya satu dari hanya enam kota di Indonesia yang memiliki lembaga pendidikan bergengsi ini, bersama Bandung, Magelang, Madiun, Blitar, dan Probolinggo.

“Sebelum OSVIA Serang berdiri, anak-anak pejabat Banten bersekolah di OSVIA Bandung,” ujar Mufti Ali

Ragam Sekolah Kolonial di Serang

Selain OSVIA, Serang juga menjadi lokasi berdirinya banyak sekolah elit masa kolonial, antara lain:

  • Europeesche Lagere School (ELS)

  • Hollandsch-Chineesche School (HCS)

  • Hollandsch-Inlandsche School (HIS)

  • Sekolah Desa & Frobel School

  • Sekolah Katolik Roma

  • Normaal School (kini Markas Korem 064/Maulana Yusuf)

Menurut catatan Mufti Ali dalam buku Banten dan Pembaratan: Sejarah Sekolah 1833–1942, pada masa kolonial, Serang menjadi kota paling ramai di Banten, dihuni oleh lebih dari 200 orang Eropa, ratusan orang Tionghoa, serta pendatang Arab dan Asia Timur lainnya.

Pada masa itu, sistem pendidikan sangat diskriminatif.

  • ELS hanya untuk anak-anak Eropa.

  • HCS untuk keturunan Tionghoa.

  • HIS dan Sekolah Desa untuk pribumi.

Baca Ini  Tingkatkan Kualitas Koperasi, DisperindagkopUKM Kota Tangerang Gelar Diklat Keuangan Koperasi Angkatan 2 Tahun 2025

Bahkan, pada awal berdirinya ELS Serang, tidak ada satu pun siswa pribumi. Baru pada 1925 anak-anak pribumi mulai diterima, dan pada 1934, 60% siswanya berasal dari pribumi.

Sejarawan Banten, Mufti Ali, dan peneliti Banten Heritage, Dadan Sujana, menilai tumbuhnya sekolah di Serang erat kaitannya dengan perpindahan pusat kekuasaan dari Banten Lama ke Serang pada masa Daendels.

Kota Serang pun berkembang sebagai pusat intelektual dan pemerintahan.

Dari sistem pendidikan kolonial inilah lahir tokoh-tokoh besar, seperti:

  • Husein Djajadiningrat – doktor pertama pribumi di Hindia Belanda.

  • Maria Ulfah Santoso – sarjana hukum perempuan pertama di Indonesia.

Dadan Sujana menegaskan, fakta sejarah ini seharusnya menjadi fondasi bagi pemerintah dan masyarakat Serang untuk merumuskan kembali wajah pendidikan modern di Banten.

“Dengan akses pendidikan yang lebih mudah, mestinya tidak ada lagi anak-anak yang tidak sekolah,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya pendidikan gratis sebagai wujud nyata dari cita-cita kemerdekaan Indonesia mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sumber: Serangkab.go.id

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments